Afiq Mustofa : Cahaya Pembasmi Hama

PENDAHULUAN

1.1 Serangga dan Reaksinya Terhadap

    Serangga adalah mahluk hidup dengan serangga sebesar 4-8 juta sangat dominan Jumlah mahluk hidup yang teridentifikasi sebesar 1. 5 juta, jumlah serangga jumlah serangga yang teridentifikasi lebih dari 1/2 jumlah mahluk hidup yang teridentifikasi.  Serangga adalah kelompok utama hama.

Pertama: serangga merupakan kelompok terbesar dalam dunia hewan, kurang lebih 2/3 spesies hewan yang telah teridentifikasi adalah serangga.

Kedua: serangga memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungannya.

Ketiga: serangga memiliki jenis makanan yang beragam.

Keempat : serangga dapat berkembangbiak dengan cepat.

Kelima : serangga dapat menjadi resisten terhadap insektisida.

    Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, serangga mudah karenanya serangga hama dapat dikendalikan Pengaruh suhu terhadap serangga perilaku serangga (tertarik gelombang cahaya, Serangga dapat dibedakan dalam berbagai jenis menurut kemampuan adaptasi terhadap adalah salah satu jenis serangga yang tertarik terhadap cahaya.  Setiap cahaya yang terpancar memiliki satuan Intensitas cahaya ini dapat mempengaruhi perilaku serangga (hama). Besarnya intensitas cahaya yang diperlukan Jenis-jenis serangga yang mudah terpengaruh terhadap intensitas cahaya cahaya dapat diterapkan sebagai pembasmi serangga hama, dan kemudian serangga yang Salah satu sifat serangga adalah memiliki ketertarikan terhadap cahaya, dalam praktek.

DASAR TEORI

2.1 Mengukur Intensitas Cahaya

    cahaya dapat dilakukan dengan mengukur mikroskop yang dilengkapi dengan komponen yang berfungsi untuk melalukan individu cell secara sekuensial melalui berkas cahaya (laser).

Komponennya antara lain:

1. Sumber cahaya, dan komponen pemfokus cahaya.

2. Fluidics, untuk mengarahkan cells melalui cahaya.

3. Detektor Elektronika, untuk mendeteksi cahaya dan mengubahnya ke bentuk sinyal digital.

4. Suatu komputer untuk penyimpanan signals yang akan dianalisis.

2.2 Sumber Cahaya

    Sumber cahaya pada suatu flowcytometer adalah laser. Alasan penggunaan laser, karena kemampuannya untuk difokuskan menjadi berkas cahaya elliptis. Laser memancarkan cahaya koheren, dan merupakan berkas sangat paralel. Secara virtual semua cytometers mengikuti standar laser argon, yang memancarkan cahaya pada 488 nm.

    Cahaya adalah suatu bentuk energi yang terdiri dari sejumlah partikel yang disebut photons, tetapi memiliki sifat-sifat gelombang. Panjang gelombang cahaya/photon sebanding dengan energi yang dimilikinya.

2.3 Fluidics

    Fluidics adalah bagian yang paling sensitif pada setiap flow cytometer. Jika terjadi kesalahan, semuanya akan salah, dan fatal.

Masalahnya termasuk:

  • Clogs (celah pada aliran larutan sangat kecil). 
  • Gelembung udara (akan menggangu aliran dan yang akan diinterpretasikan sebagai cell). 
  • Leaks (Kurangnya tekanan didalam sistem akan menggangu aliran cellular dan mempengaruhi hasil). 
  • Errors yang paling umum mempengaruhi fluidics adalah:
  1. Clumps of cells. Hal ini akan "clog" mesin dan berakibat kesulitan utama dan "headaches" . Kejadian ini dapat diatasi dengan pre-filtrasi populasi cell tidak lebih besar dari 50 um filter. 
  2. Konsentrasi cell yang tidak sesuai. Semua larutan memiliki proporsi partikel debu yang rendah. Jangan percaya suatu flow rate yang lebih rendah dari 15 cells/sec. Tetapi, flow rates lebih besar dari sekitar 4000 cells/sec meningkatkan risiko pada pengukuran multiple cells secara simultan. 
  3. Konsentrasi Optimal adalah sekitar 1x106 s/d 1x107 cells/ml

2.4 Detektor Sinyal

    Seperti dibahas sebelumnya, deteksi sinyal dilaksanakan dengan menggunakan kombinasi photomultiplier (cathode-ray) dan rangkaian elektronika. Sinyal yang dibangkitkan oleh setiap individu cell pada dasarnya merupakan oscilloscope trace. Dengan melakukan integrasi sinyal ini, akan dihasilkan suatu nilai numerik bagi fluorescensi maupun nilai side scatter.

RANCANGAN ALAT PENANGKAP SERANGGA HAMA

    Setelah nilai intensitas cahaya yang efektif diperoleh melalui uji laboratorium, dapat diimplementasikan dalam rancangan alat penangkap serangga hama di lahan pertanian. Secara umum gambaran cara kerja piranti perangkap serangga hama ini adalah sebagai berikut ; dengan menyalakan lampu utama dalam beberapa waktu untuk mengumpulkan semua serangga. Setelah lampu perangkap serangga kecil padam, kemudian lampu perangkap serangga sedang dinyalakan sehingga sisa serangga yang tidak masuk perangkap pertama menuju perangkap ke dua . Filter dipasang agar serangga tertentu dalam ukuran sangat besar yang biasanya menjadi prodator menguntungan tidak ikut terperangkap.

 TEMUAN DAN PEMBAHASAN

  • Kondisi pertama dimana diperoleh 6 siklus penangkapan serangga tiap jam dengan pembagian waktu; 4 menit untuk nyala lampu 4 (mengumpulkan semua serangga); 2 menit untuk nyala lampu 3 (mengarahkan serangga kecil ke bejana perangkap); 2 menit untuk nyala lampu 2 (mengarahkan serangga sedang ke bejana perangkap); 2 menit nyala lampu 1 (pengarah serangga besar ke bejana perangkap). Sehingga jumlah waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus penangkapan selama 10 menit.
  • Kondisi kedua dimana diperoleh 3 siklus penangkapan serangga tiap jam dengan pembagian waktu; 8 menit untuk nyala lampu 4 (mengumpulkan semua serangga); 4 menit untuk nyala lampu 3 (mengarahkan serangga kecil ke bejana perangkap); 4 menit untuk nyala lampu 2 (mengarahkan serangga sedang ke bejana perangkap); 4 menit nyala lampu 1 (pengarah serangga besar ke bejana perangkap). Sehingga jumlah waktu yang dibutuhkan dalam satu siklus penangkapan selama 20 menit.

Simpulan

    Hasil implementasi dan analisis data uji coba yang telah dilakukan menggambarkan bahwa rancangan alat penangkap serangga (hama) yang diimplementasikan telah memiliki mekanisme kerja yang sesuai rancangan dan dapat ditarik

simpulan sebagai berikut :

  1. Mikrokontroler AT 89C51 yang dirancang telah bekerja sebagaimana yang diharapkan, dan mampu menjalankan software/program untuk mengendalikan Relay JZC-22F-12V DC, dengan mengunakan sumber tegangan sebesar 12V. 
  2. Relay JZC-22F-12V DC telah berhasil mengendalikan nyala lampu secara berturut turut dalam siklus penangkapan serangga (hama) yang direncanakan. 
  3. Catudaya Elemen Kering GS 7 M 12V 7 Ah, dapat diterapkan selama 10 jam/hari dengan ketahanan energi sealama 1 hari. 
  4. Catudaya Elemen Basah GS 12Vb 75A, dapat diterapkan sealam 10 jam/hari dengan ketahanan energi selama 5 hari.
 
NAMA : Afiq Mustofa
KELAS : 7E 
 
REFERENSI ARTIKEL : Jurnal Rekayasa Teknologi

Komentar